Profile Dr. I. L. Nommensen
Jumat, 22 November 2013
0
komentar
DR. INGWER LUDWIG NOMMENSEN dilahirkan
di pulau Nordstrand antara Denmark dan Jerman pada tanggal 6 Februari
1834. Dia berikrar untuk menjadi misionaris ketika dia sakit keras, dan
memang inilah yang merupakan satu-satunya tujuan hidupnya. Setelah
dididik oleh Rheinische Mission Gesselschaft (RMG), dan ditahbiskan pada
bulan Oktober 1861, beliau berangkat ke Sumatera. Ia tiba di Padang
pada tanggal 14 mei 1862. Rencananya adalah bekerja di kalangan orang
Batak. Kesulitan yang dihadapai pada awalnya yaitu adanya larangan untuk
bekerja di daerah pedalaman dan adanya komitmen sesama misionaris untuk
memusatkan perhatian pada daerah Tapanuli Selatan. Setelah berusaha
keras, Nommensen diizinkan bekerja di daerah barus, dan mulailah beliau
melayani beberapa orang batak dan belajar bahasa mereka.
Nommensen
melakukan perjalanannya ke daerah pedalaman pada tanggal 25 oktober
1862. Perjalanan tersebut dianggap sangat berhasil. Lalu beliau pindah
ke Sipirok dan disana bertugas untuk mendirikan sebuah sekolah. Pada
bulan Nopember 1863, dia mengunjungi daerah Silindung. Disini dia
menghadapi masalah sifat permusuhan dari raja-raja didaerah tersebut.
Namun dia sudah bertekad untuk dapat tinggal disana, mengenal sifat
orang batak dan melayani mereka. Keteguhan hatinya untuk hidup sederhana
yang bersifat penyangkalan diri, ketekunan dan kepandaiannya dibidang
pengobatan menyebabkan dia dapat tinggal dengan orang Batak dan melayani
mereka, jasmani maupun rohani. Rencananya adalah untuk hidup jauh dari
kehidupan perekonomian setempat dan akhirnya mendirikan suatu koloni
Kristen yang dapat memenuhi kebutuhan sendiri.
Orang
- orang yang pertama, empat lelaki, empat wanita dan lima anak-anak,
dibaptis oleh Nommensen pada tangal 27 Agustus 1865. Dia juga mendirikan
Huta Dame (Kampung Pardamean) dengan sebuah gereja sederhana, sekolah
dan beberapa rumah lain. Tantangan demi tantangan yang datang dari
masyarakat, raja-raja dan bahkan dari lembaga zending di Barmen dihadapi
Nommensen dengan tabah dalam merealisasi cita-citanya.
Dalam
sepucuk surat yang dikirimkannya ke Barmen, dia berbicara tentang suatu
penglihatan yang dia perolah tentang hari depan masyarakat yang
dilayani ini :
"Dalam roh
saya melihat dimana-mana jemaat-jemaat Kristen, sekolah-sekolah dan
gereja-gereja kelompok orang Batak tua dan muda yang berjalan ke
gereja-gereja ini. Di setiap penjuru saya mendengar bunyi lonceng gereja
yang memanggil orang-orang beriman datang ke rumah Alah. Saya melihat
dimana-mana sawah-sawah dan kebun-kebun yang telah diusahakan,
padang-padang penggembalaan dan hutan-hutan yang hijau, kampung-kampung
dan kediaman-kediaman yang teratur disalamnya terdapat
keturunan-keturunan yang berpakaian pantas. Selanjutnya, saya melihat
pendeta-pendeta dan guru-guru orang pribumi Sumatera berdiri di
panggung-panggung dan di atas mimbar-mimbar, menunjukkan cara hidup
Kristen kepada yang muda maupun yang tua. Anda mengatakan bahwa saya
seorang pemimpi, tetapi saya berkata : tidak, saya tidak. Saya tidak
bermimpi. Iman saya melihat ini semua; hal ini akan terjadi, karena
seluruh kerajaan akan menjadi milikNya dan setiap lidah akan
mengetahuibahwa Kristus adalah Tuhan bagi kemuliaan Allah Bapa. Karena
itu, saya merasa gembira, walaupun rakyat mungkin menentang firman
Allah, yang mereka lakukan tepat seperti mudahnya mereka mencegah firman
Allah dari hati mereka. Suatu aliran berkat pastilah akan mengalir atas
mereka. Hari sudah mulai terbit. Segera cahaya terang akan menembus,
kemudian Matahari Kebenaran dalam segala kemulianNya akan bersinar atas
seluruh tepi-langit tanah Batak dari Selatan bahkan sampai ke
pantai-pantai Laut Toba"
Menurut
berbagai sumber, penglihatan tersebut diperolehnya ketika beliau berdoa
di Siatas Barita, Tarutung, tempat Salib Kasih sekarang.
Ketika
Nommensen meninggal pada tanggal 23 Mei 1918, gereja telah bertumbuh
dan mencakup kurang lebih 180.000 orang anggota yang dibaptis,
sekolah-sekolah yang berjumlah 510 buah itu mempunyai 32.700 orang murid
yang terdaftar dan gereja yang dipimpin oleh 34 orang Batak yang
ditahbiskan , 788 orang guru Injil dan 2.200 orang penetua.
dikutip dari :
(Pedersen, P.B 1979 Daerah Batak dan jiwa Protestan)

0 komentar:
Posting Komentar